Sunday, 6 March 2011

When insomnia meets confussion..

Sudah dini hari ya?
Time goes so fast, apparently. I thought that today's still Silent Day because I feel like it's still 8 p.m in my mid. But who cares, eh? Sebenarnya niat pengen utak-atik blog tapi mood lagi kurang bagus jadi semacam no idea gitu maka diputuskanlah untuk ngepost walaupun gatau mau ngeposting apa. Ya, hanya sekedar postingan belaka dan agak sedikit curcol. Setidaknya ada tempat buat berbagi rasa karena saya tidak tau harus curcol sama siapa lagi. Seems like nobody can't hear me.

Sepi. Sendiri.

Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi saya sekarang. Kalau dibilang galau sih nggak, tapi lebih tepatnya ke perasaan saya yang lagi sepi. Tau kan maksudnya? Nggak. Kadang-kadang saya benci hidup saya seperti ini. Merasa ditinggalkan. Terpuruk. Tak terjangkau. Bahkan tak diharapkan di dunia ini. But I know then, it's definitely moron. Saya sadar memang, tapi kadang-kadang perasaan itu lebih menguasai kesadaran saya. Ya. Saya sering iri melihat orang-orang yang bisa selalu bersama orang-orang terdekatnya. Saya iri dengan mereka yang selalu dibutuhkan. Saya iri dengan mereka yang bisa tertawa lepas dengan orang-orang yang menyayanginya. Saya iri dengan mereka yang merasa ada di dunia ini. Saya iri dengan mereka yang sanggup menjalani getirnya hidup mereka karena banyak orang yang sangat peduli terhadap mereka.

Saya iri.

Sebenarnya saya tidak butuh itu semua. Saya tidak butuh perhatian. Saya tidak butuh orang peduli sama saya. Saya tidak butuh ke-eksis-an di dunia yang penuh dengan makhluk munafik ini. Saya tidak butuh materi. Saya hanya butuh dukungan dari orang-orang disekitar saya, yang mengaku menyayangi saya. Keluarga saya, sahabat-sahabat saya, dan jika ada, pacar saya.

Life's getting harder, I'm getting weaker.

Saya merasa hidup saya semakin berat untuk dijalani. Sementara itu saya semakin lemah. Saya mulai tidak semangat untuk melalui sesuatu dengan sungguh-sungguh. Terutama di sekolah, saya merasa semakin bodoh. Materi semakin lama semakin berat terutama untuk mata jurusan tetapi tetap saja saya santai. Sebenarnya saya ingin sekali rajin tapi sangat susah untuk memulainya and don't ask me why. Satu-satunya alasan saya masih sanggup ngejalanin ini semua hanya demi Tuhan dan keluarga.

Sahabat itu selalu ada.

Tidak dengan saya. Sahabat-sahabat saya satu persatu mulai menjauh. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing dan merasa kehadiran saya hanya akan menganggu mereka. Tidak ada lagi canda tawa seperti dulu. Tidak ada dukungan lagi seperti dulu. Setiap kali saya bercanda, saya disalahkan. Setiap kali saya bercerita tentang masalah saya, mereka hanya memandang kasihan kepada saya. Tidak ada solusi. Tidak ada dukungan. Sementara ketika mereka membutuhkan saya, saya selalu berusaha ada. Saya berusaha mencari solusi ketika mereka punya masalah. Saya berusaha mencairkan suasana ketika mereka lagi sensi. Saya berusaha membuat mereka tertawa dengan kekonyolan saya yang kadang-kadang malah mempermalukan diri saya.

Seperti inikah sahabat?

Saya juga tidak mengerti. Kenyataannya hanya merekalah orang yang paling dekat dengan saya selama ini. Saya tidak supel dan tidak pandai bergaul. Saya tidak pernah punya sahabat lain. Saya sangat kesepian. Karena itulah, saya sangat membutuhkan mereka setiap waktu. Saya ingin dukungan dari mereka. Tapi apa? mereka tak pernah mengerti dan mungkin tak akan pernah. Seiring berjalannya waktu, keegoisan itu semakin tampak. Benar-benar tidak ada kebersamaan lagi. Sahabat macam apa itu?

Life must go on.

Prinsip itulah yang selalu saya pegang. Ya, hidup harus terus berlanjut. Saya yakin Tuhan akan memberikan jalan kepada saya hanya saja saat ini belum waktunya. Saya harus terus berusaha. Tidak ada kata menyerah. Sendiri pun menjalaninya tidak masalah. Selama ada kemauan, pasti ada jalan, bukan?


Bah. Kepanjangan deh ini postingan. Salahkan insomnia.