Wednesday, 11 September 2013

Itu

Ketika mata tak bisa terpejam.
Keping-keping memori itu pelan-pelan menyatu kembali.
Seperti permainan puzzle.
Tidak.
Dia tidak boleh ingat lagi.
Itu.
Bahaya.
Pejamkan mata, memori itu malah semakin jelas.
Mencoba hitung domba.
1...
2...
3...
4...
Ah, sama saja tololnya.
Dia butuh botol berisi pil-pil itu.
Oh tidak, ternyata isinya sudah kosong.
Tak.
Ada.
Tersisa.
40 butir lenyap.
Tak ada kesempatan lagi.
Tinggal menunggu waktu.
Sampai ia dibunuh oleh itu.

No comments: