Monday, 25 May 2015

Diora:

https://igcdn-photos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xfa1/t51.2885-15/11326040_627313780738325_1814272836_n.jpg





























 44 halaman. 14 hari.
Bersama 9 orang saya merampungkan majalah Diora edisi 3 ini. Majalah ini semacam proyek akhir buat mata kuliah jurnalisme cetak. Sebelumnya, sudah ada produksi program berita televisi dan produksi air magazine radio jadi ini merupakan produksi terakhir dari perkuliahan jujuju, mata kuliah 9 sks yang paling asik (hehehe asik hehehe) di jurusan jurnalistik.

Kebetulan saya yang jadi pemimpin redaksi, bahasa kerennya di media editor in chief, jadi produksi ini benar-benar dibawah tanggungjawab saya. Ya, pertama kalinya saya menjadi seorang pemimpin di sebuah kelompok. Sebenernya sih tumbal untuk mengganti satu oknum yang-tidak-boleh-disebut-namanya. Jadilah saat itu trial and error saya menjadi pemimpin.

Kalau di personality test gitu, saya termasuk tipe plegmatis-sanguinis. Jadi memang nggak ada bakat pemimpinnya sama sekali. Pas produksi semuanya kebawa santai, karena anggota kelompok saya kebanyakan inner circle saya sendiri. Saya juga merasa nggak enak untuk ngomel dan mereka pun tidak ada usaha untuk membantu saya, hanya mengerjakan bagiannya sendiri. Sempat ada rasa kesal karena saya tidak melihat antusiasme anggota yang lain dalam mengerjakan majalah ini.

Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari produksi majalah ini. Mulai dari dapet narasumber yang inspiratif dan baik, yaitu Gian Ergiansyah, pendiri Sakola Cikapundung, semacam sekolah informal buat anak-anak di sekitar sungai Cikapundung gitu. Terus bisa photoshoot sama Finna Yudharisman, instagrammer kece asal Bandung (bisa dicek instagram-nya kakak). Terus 'kenal' sama lensa Carl Zeiss 50 mm f/1.4 yang cuma bisa nyewa dan hasilnya sungguh ntap.

Lagi-lagi kebawa plegmatis-nya saya, nge-layout majalah pun baru selesai h-1. Setelah kocar-kacir nyari percetakan, akhirnya yang buka tinggal angkasa putra yang ngantrinya pengen ngacak-ngacak rambut cowo anak arsi di depan saya yang lagi nunggu cetakan desainnya. Curhat dikit (loh daritadi kan ini curhat) saya disitu belum tidur semaleman suntuk dan cuma makan dua suap nasi colongan temen saya. Terus disuruh nunggu nyetak sampe pukul 1 pagi tapi ternyata baru bisa kelar pukul 8 pagi. Sial, tau gitu ditinggal aja.

Diora edisi 3 kelar tepat waktu sih untungnya, tapi masih ada kesalahan teknis padahal udah bayar mahal. Ya overall seneng sih sama hasilnya karena agak sesuai ekspektasi. Mungkin nanti bakal masukin ke issue versi lengkapnya supaya bisa diapresiasi banyak orang. Masih banyak kurangnya sih, tapi yang penting sekarang bisa tidur tenang tanpa asupan kafein.


No comments: