Sunday, 21 June 2015

Tentang Ayah

Hari ini adalah hari kesekian kalinya aku mengabaikan bbm ayah yang baru beberapa minggu lalu dia install. Memang bukan ku sengaja, entah kenapa notifikasi bbm sering tidak ada. Terus pas baca tulisan-tulisan orang tentang hari ayah hari ini, tiba-tiba keinget sama ayah dan iseng buka bbm. Eh, ternyata bener. Ada dua chat dari ayah yang terabaikan olehku. Isinya "selamat malam" dan "lagi ngapain." Sudah terlalu larut membalasnya, aku tak ingin membuatnya bertanya-tanya mengapa aku belum tidur. Kuputuskan untuk membalasnya besok pagi saja.

Dari dulu aku tak pernah akrab dengan ayah. Sudah 21 tahun aku menjadi anaknya, tapi aku bahkan tak mengenal ayahku seutuhnya. Kami jarang sekali mengobrol atau bertukar pikiran. Entah aku yang tidak ingat, tetapi tidak ada kata-kata atau semacam kutipan dari ayah yang membekas di pikiranku. Aku sadar itu tak berarti Ayah tak sayang padaku. Aku tahu dia sayang. Mungkin dia hanya tak tahu caranya. Mungkin alasan aku tak tahu cara menyayangi laki-laki karena aku tak pernah belajar darinya.

Ayah punya banyak obsesi yang aneh, yang kami serumah tak pernah mengerti jalan pikirannya. Di tengah-tengah pekerjaannya sebagai project manager di perusahaan kontraktor, ia pernah jadi produser bikin album penyanyi trio yang ujung-ujungnya tak jelas dan entahlah sekarang udah bubar atau belum. Setahun lalu, ia mencoba menjadi calon legislatif tetapi hasilnya kalah. Sering kesal dengan sikapnya yang semaunya, tapi kebaikan dan sisi humorisnya kadang menutupi kekerasan hatinya. Ayah agak humoris. Tak lucu memang, tetapi sering membuat suasana mencair. Tetapi, ayah gampang emosi. Aku saja takut. Kebanyakan makan daging jadi darah tinggi kayaknya. Katanya sih dulu ayah kalau marah sama kakak sulungku, yang saat itu begajulan banget, suka main fisik. Aku sampai sekarang bahkan tak pernah berselisih dengan ayah karena aku berusaha nurut dan tak membuatnya marah.

Kenangan yang paling ku ingat dengan ayah adalah nobar. Setiap ada liga inggris atau spanyol, yang biasanya pasti diacak tayangannya di daerah kami, aku dan ayah (kadang-kadang adikku yang bungsu juga ikut) nobar di kafe atau warung mie. Kwetiau goreng dan kopi susu menjadi menu favorit kami saat nobar. Saat ada jadwalnya, ayah selalu terjaga dan bela-belain nyetirin kami ke tempat nobar.

Tak terasa sudah 3 tahun aku merantau dari rumah. Setahun aku tak pulang. Komunikasi dengan ayah paling hanya telfon dan sms atau, akhir-akhir ini, bbm. Kadang-kadang aku menanyakan kabar hanya untuk minta 'jatah' bulanan. Baru kusadari isi obrolan kami paling hanya menanyakan kabar. Tidak pernah ada deep conversation bersama ayah. Kaku dan tertutup. Sebenarnya itulah yang saya rasakan ketika bersama ayah. Terkesan tidak harmonis, tapi tidak. Kami hanya menikmati momen saat bersama, tanpa mengucapkan apa-apa. Mungkin memang itu cara ternyaman untuk kami saling menyayangi hingga saat ini. Kayak quote di film Flipped.

"Somehow the silence seemed to connect us in a way that words never could."

Selamat hari ayah, pa. Anakmu rindu. Tunggu aku setahun lagi pulang dan membuatkanmu kopi.

No comments: